Puluhan warga negara Indonesia (WNI) yang ditemukan di antara ribuan pejuang ISIS asing di Kamp Pengungsi Al-Hol, Suriah Timur, sebagian mengatakan ingin pulang ke Indonesia, Rabu (27/3/2019).
Menurut berita yang dilansir BBC Indonesia, mayoritas warga negara Indonesia adalah anak-anak dan perempuan. Sebelum tiba di Al-Hol mereka berada di Baghuz, kantong ISIS terakhir yang telah direbut oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pimpinan Kurdi.
Salah satu warga negara Indonesia, Maryam, yang mengaku berasal dari Bandung, Jawa Barat, ingin pulang ke kampung halaman bersama keempat anaknya.
“Saya bersama empat anak dan satu keluarga dari Baghuz, kami ingin kembali ke negara asal kami, ke Indonesia,” kata Maryam seperti dikutip BBC Indonesia, Rabu (27/3/2019).
Menurut kesaksian Afshin, penulis lepas yang mewawancarai Maryam, kondisi kamp pengungsi di Al-Hol sangat buruk.
“Kondisi di kamp sangat, sangat buruk dan memprihatinkan. Tidak cukup untuk menampung ribuan orang, tidak ada bantuan. Ada yang berbagi makanan tapi tidak cukup untuk semua,” kata Afshin.
Puluhan WNI yang ditemui Afshin baru saja meninggalkan Baghuz. Namun, Afshin mengatakan ada banyak pengungsi lain yang telah tinggal di kamp selama bertahun-tahun.
Sebelumnya, pasukan SDF yang didukung AS dilaporkan telah menahan lebih dari 5.000 pejuang Suriah dan asing sejak Januari lalu. Mereka ditempatkan di berbagai penjara, sementara perempuan dan anak-anak ditempatkan di kamp-kamp pengungsi.’
Menurut seorang pejabat Kurdi yang dikutip oleh kantor berita AFP, lebih dari 9.000 keluarga pendukung ISIS dari luar negeri ditempatkan di kamp Al-Hol. Sehingga kamp dengan kapasitas sekitar 20.000 orang saat ini harus menampung lebih dari 70.000 pengungsi.
Pejabat Kurdi, Abdul Karim Omar, mengaku sangat kecewa dengan dunia internasional karena merasa dibiarkan berurusan dengan pejuang ISIS.
Abdul mengatakan, pihaknya tidak mampu menampung milisi yang ditahan.
Abdul mengaku sangat kecewa dengan langkah sejumlah negara yang mencabut kewarganegaraan warganya yang pernah/telah bergabung dengan ISIS.
“Kurdi sangat menderita selama masa mereka di bawah ISIS dan juga melawan kelompok militan. Meninggalkan anggota ISIS di wilayah yang tidak stabil di bawah pemerintahan yang tidak mampu menghadapinya akan menimbulkan masalah,” kata Abdul.
BBC Indonesia telah mencoba menghubungi Kemlu RI dan KBRI Damaskus untuk meminta langkah penanganan terhadap WNI yang bergabung dengan ISIS, namun hingga berita ini diturunkan, BBC Indonesia belum mendapatkan jawaban.
