Ratusan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sebelumnya berkumpul di depan gedung, satu per satu mulai memasuki bioskop yang terletak di kawasan Causeway Bay. Meski mengaku tidak tahu dan dipenuhi rasa penasaran dengan jalan cerita LIMA yang akan ditonton, mereka terlihat ceria karena berkesempatan mengikuti ajang penghargaan film gratis yang digelar The Indonesian Club.
“Katanya itu film tentang Pancasila, tapi saya tidak tahu seperti apa ceritanya. Saya harap Anda tidak bosan dengan film itu. Karena Anda jarang memiliki kesempatan untuk menonton bersama secara gratis seperti ini,” ujar Umi, salah satu PMI yang mendapatkan tiket bioskop setelah melakukan registrasi melalui hotline The Indonesian Club.
Omnibus LIMA, 5 Sila dalam Satu Cerita
Film LIMA adalah sebuah omnibus atau film yang menyatukan beberapa genre yang berbeda dalam satu rangkaian cerita. Tidak hanya genre, jalan cerita juga berbeda dengan mengambil ide dari masing-masing sila dalam Pancasila, namun tetap memiliki kesinambungan dan benang merah cerita.
“Karena kita Pancasila, film ini sengaja disutradarai oleh 5 orang, mengusung 5 cerita yang merupakan implementasi dari 5 sila. Sedangkan satu keluarga yang dihadirkan dalam cerita adalah gambaran Indonesia yaitu satu rumah dan satu keluarga dimana kita semua berada di dalamnya,” ujar Lola Amaria yang selain menjadi produser juga salah satu sutradara yang membidangi menyutradarai film dengan prinsip-prinsip Persatuan Indonesia.
Selain Lola, sutradara lain yang terlibat dalam penelitian panjang dan penyutradaraan film LIMA ini adalah Salahuddin Siregar yang menyutradarai prinsip pertama, Tika Pramesti prinsip kedua, Harvan Agustriansyah dengan prinsip keempat, dan Adriyanto Dewo untuk prinsip kelima.
Film LIMA dibuka dengan nasib Fara, Aryo, Adi dan Ijah sebagai pekerja rumah tangga (PRT) mereka yang berduka karena baru saja kehilangan Maryam. Masalah muncul ketika mereka memperdebatkan bagaimana Maryam akan dimakamkan. Sebab, Maryam adalah seorang Muslim, sementara hanya Fara yang memeluk Islam di antara saudara-saudaranya yang lain.
Meski masalah pemakaman akhirnya diselesaikan secara damai, masalah kemudian berkembang menjadi anak-anak Maryam. Adi yang sering di-bully menyaksikan beberapa kejadian yang membangkitkan rasa kemanusiaannya dan membuatnya harus berhadapan dengan teman-teman sekolah yang sering mem-bully-nya.
Fara sebagai pelatih renang harus menghadapi masalahnya sendiri. Ia yang sebelumnya selalu menentukan atlet yang dikirim ke pelatnas tanpa unsur ras dan nepotisme dalam penilaian, harus menghadapi tantangan dari pemilik klub tempatnya bekerja.
Sementara itu, Aryo sebagai anak sulung dalam keluarga yang baru saja kehilangan pekerjaan harus berusaha menjadi pemimpin dalam masalah pembagian warisan yang ditinggalkan ibunya.
Sementara itu, Ijah terpaksa mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga di keluarga mendiang Maryam untuk pulang menyelamatkan keluarganya sendiri: menuntut keadilan bagi kedua anaknya.
Di tengah permasalahan yang dihadapi, keluarga dalam cerita ini hanya perlu kembali pada lima hal paling mendasar yang menjadi akar permasalahan mereka, yaitu: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan.
Kecemasan Bersama dan Lima Garis Merah dengan PMI Life
Dua sutradara Lola Amaria dan Tika Pramesti yang hadir dalam acara nobar TIC ini mengaku mendapat tantangan tersendiri untuk menyatukan kelima sutradara tersebut dan menjalankan rasa kecemasan bersama atas fenomena sosial politik yang mengobrak-abrik nilai-nilai Pancasila dan Pancasila. terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia menjadi sebuah cerita audio visual yang dibatasi durasinya.
“Saya gugup tentang kekerasan yang merajalela dan tindakan main hakim sendiri yang terjadi setiap hari. Butuh riset yang cukup panjang untuk menentukan cerita dan mencari pemeran Adi agar karakternya sesuai dengan yang kita inginkan,” kata Tika Pramesti usai acara nobar.
Mengapa PMI harus menonton LIMA? Mungkin karena film ini bisa menjawab dan mengingatkan semua penonton akan pertanyaan, apa itu Pancasila? Seperti apa? Apakah hanya dalam bentuk tulisan?
Film ini layak ditonton bukan hanya untuk memahami makna di balik setiap sila tetapi juga untuk mengingatkan penonton bahwa Pancasila ada dalam kehidupan sehari-hari seperti falsafah air yang menyatukan dan terus menemukan jalannya meski terhalang oleh apapun.
Konflik-konflik yang dihadirkan adalah konflik-konflik yang dialami dan ditemui PMI setiap hari, seperti isu diskriminasi dan rasisme serta dilema Ijah antara pemenuhan kebutuhan ekonomi dengan kekhawatiran dan kerinduan akan anak saat bekerja jauh dari rumah.
Menariknya, penyelesaian konflik dalam film ini merupakan solusi klise dan terkesan sepele namun seringkali dilupakan. Misalnya, perbedaan agama dapat dimediasi melalui pemahaman dan toleransi individu. Kemanusiaan adalah rasa yang harus dijunjung tinggi di atas rasa lainnya. Kesatuan dapat dicapai dengan tidak mengelompokkan atau membedakan manusia berdasarkan warna kulit dan ras. Dan musyawarah adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan suatu masalah. Juga keadilan akan terwujudd jika konteks masalah dipertimbangkan dengan cermat.
“Film ini bagus dan layak ditonton oleh seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Karena sudah menjadi tugas kita bersama bangsa Indonesia untuk menetralisir keadaan yang memprihatinkan saat ini. Agar masyarakat Indonesia khususnya sahabat PMI tidak menjadi orang yang mudah marah, mudah tersinggung, sensitif, atau sekarang istilahnya sumbu pendek hanya mengatasnamakan golongan dan kepentingan tertentu saja,” kata Rosi, PMI dari NTT yang datang untuk menonton dengan teman-temannya.
Meski ditulis oleh dua penulis dan disutradarai oleh 5 kepala yang berbeda, film yang rilis tahun lalu, bertepatan dengan hari Pancasila 1 Juni 2018, perubahan adegan drama dari satu sila ke sila lainnya sangat samar dan nyaris tak kentara. Penonton bisa tersesat dalam drama, konflik, dan resolusi dari masing-masing sila dan menerima apa yang dikatakan tanpa merasa dipaksa dan diajarkan.
