by

Pemulangan Jenazah PRT Migran asal Filipina yang Diduga Meninggal Akibat Vaksin Tertunda Karena Penerbangan

-Berita-1,937 views

Pemulangan jenazah Pekerja rumah tangga (PRT) migran asal Filipina berusia 44 tahun, Jergrace Tabiano Anacleto, yang diduga meninggal akibat vaksinasi tertunda karena penerbangan pesawat dari Hong Kong ke Filipina yang baru akan dibuka akhir bulan ini, Jumat (14/5/2021).

Dikutip dari HK01, seorang PRT migran asal Filipina berusia 44 tahun yang divaksinasi dengan vaksin Fubitai tanggal 21 April, setelah 18 hari kemudian jatuh pingsan di rumah majikan di Sai Kung dan meninggal setelah dibawa ke Rumah Sakit Tseung Kwan O pada hari Minggu (9/5). PRT tersebut adalah PRT migran pertama yang meninggal setelah disuntik vaksin.

Zhang Jiemin, ketua Asosiasi Agen Tenaga Kerja Hong Kong, mengatakan bahwa ketika majikan mempekerjakan PRT Filipina, mereka telah membeli asuransi untuk mereka di Hong Kong dan Filipina. Polis asuransi akan menanggung biaya pengangkutan jenazah, dan prosedurnya juga akan ditangani oleh Konsulat Jenderal Filipina di Hong Kong. Asuransi lokal juga akan memberikan kompensasi untuk keluarga almarhum.

Lebih lanjut Zhang Jiemin mengatakan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mengangkut jenazah kembali ke daerah setempat memang menjadi lebih lama selama epidemi karena selain jenazah butuh dibedah atau diperiksa, Hong Kong saat ini juga masih melarang penerbangan dari Filipina ke Hong Kong dan sebaliknya penerbangan dari Hong Kong ke Filipina juga berkurang dratis.

Menurut pemahaman Zhang Jiemin, konsulat telah bekerja sama dengan rumah duka yang sudah dikenal selama bertahun-tahun yang umumnya memilih penerbangan Cathay Pacific. Penerbangan Cathay Pacific ke Manila baru akan berangkat paling cepat tanggal 29 Mei, sehingga jenazah akan terdampar di Hong Kong untuk sementara waktu seperti puluhan jenazah lainnya.

Departemen Kesehatan menyatakan bahwa hasil otopsi awal PRT migran tersebut mengungkapkan bahwa penyebab kematiannya adalah pecahnya aneurisma aorta aorta. Tidak ada bukti klinis bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh vaksin.

Sedangkan spesialis pernapasan Liang Zichao mengatakan bahwa aneurisma aorta almarhum membutuhkan waktu lama untuk terbentuk. Kata Liang, “Saya yakin itu salahnya korban sendiri, karena hal itu tidak terjadi dalam waktu singkat.”

Zhang dan Liang mengatakan, kasus terkait akan mempengaruhi kepercayaan para PRT migran untuk mendapatkan suntikan vaksin. Tetapi karena PRT migran yang sudah tinggal di Hong Kong, seperti warga Hong Kong lainnya, harus divaksinasi, maka mereka meminta pemerintah untuk memperkuat pendidikan dan publisitas tentang vaksin.

Ketika dihubungi HK01, Konsulat Jenderal Filipina di Hong Kong apakah telah menerima laporan tentang kematian seorang PRT migran asal Filipina setelah disuntik vaksin atau tidak, namun Konjen Filipina belum memberikan jawaban.

Sementara itu Pemerintah Hong Kong sebelumnya telah mempertimbangkan untuk mewajibkan PRT migran untuk divaksinasi ketika mereka datang ke Hong Kong atau memperbarui kontrak kerja mereka. Namun setelah munculnya serangkaian protes, Kepala Eksekutif Carrie Lam mengumumkan kepada publik untuk membatalkan proposal tersebut.

News Feed