by

Wajib Test COVID-19 dan Vaksin untuk PRT Migran di Hong Kong Dianggap Bisa Menimbulkan Masalah Baru

-Berita-2,176 views

Persyaratan pengendalian infeksi penyakit virus korona terbaru dari Pemerintah Hong Kong yang diberlakukan untuk para pekerja rumah tangga (PRT) migran menuai kritik keras dan menimbulkan pro kontra banyak pihak, baik para majikan, NGO, akademisi dan agensi. Wajib test COVID-19 dan Vaksin dianggap diskriminatif dan bisa menimbulkan polemik.

The Mission for Migrant Workers, NGO yang peduli dan mendukung PRT migran, mengatakan meski para PRT migran bersedia untuk mematuhi peraturan yang berlaku, namun sebenarnya mereka merasa tindakan tersebut diskriminatif.

Juru bicara The Mission for Migrant Workers, Johannie Tong, mengatakan kepada program RTHK pada hari Senin (3/5) bahwa pemerintah harus menjelaskan mengapa keputusan tersebut dibuat meskipun fakta bahwa sumber penularan untuk PRT migran tidak diketahui.

“Apakah setelah seorang PRT migran dipastikan mengidap virus, semua orang dengan profesi atau status yang sama harus dites? Apa dasar dari asumsi bahwa mereka pasti pernah melakukan kontak karena sumber infeksi tidak diketahui? Beberapa PRT migran memberi tahu kami bahwa mereka merasa kesal dan merasa didiskriminasi,” kata Tong.

Tong berkata sebenarnya sebagian PRT migran tidak menentang diinokulasi atau divaksin, tapi mereka tidak menyukai kenyataan bahwa mereka dipaksa untuk melakukannya.

“Untuk saya atau banyak PRT migran, kami tidak menentang vaksin. Namun mereka harus memperhatikan kondisi kesehatannya. Beberapa mengatakan kepada saya bahwa mereka mengidap penyakit kronis, seperti tekanan darah tinggi atau kondisi kronis lainnya,” ujar Tong.

Ketua Asosiasi Agen Tenaga Kerja Hong Kong, Teresa Liu, yang juga direktur pelaksana agen perekrutan untuk PRT migran, mengatakan keputusan terburu-buru pemerintah dapat menimbulkan perselisihan perburuhan.

Liu mengatakan jika seorang pekerja dengan kondisi kesehatan yang mendasar perlu menjalani pemeriksaan tubuh untuk mendapatkan pengecualian dari inokulasi atau vaksin misalnya, majikan tidak boleh diminta untuk menanggung biayanya.

“Bagaimana jika ada situasi yang muncul dari vaksinasi, dalam kasus terburuk, bagaimana jika PRT migran meninggal karena vaksin? Apakah akan ditanggung oleh asuransi tenaga kerja? Apakah akan dianggap sebagai kematian yang timbul dari masa kerja?” tanya Liu.

“Jika seorang PRT migran berkata saya tidak akan pernah mau mendapatkan suntikan, dan terpaksa pergi atau pulang ke negara asalanya. Jika PRT migran telah bekerja di sini selama bertahun-tahun, dan berhak atas pembayaran layanan jangka panjang (long service payment), tetapi majikan mengatakan saya tidak memecatnya, dan PRT mengatakan saya tidak akan mengundurkan diri. Pemerintahlah yang dalam hal ini tidak mengizinkan PRT migran untuk tinggal. Lalu siapa yang harus membayar pembayaran layanan jangka panjang atau long service payment tersebut?” tutur Liu.

Raly Tejada, Konsul Jenderal Filipina, mengimbau agar pemerintah Hong Kong tidak memaksa PRT migran untuk disuntik vaksin, jika tidak semua pekerja migran di Hong Kong juga harus mendapatkan vaksinnya juga. Bukan hanya PRT migran.

Raly menambahkan, pemerintah tidak berdiskusi dengan mereka sebelum mengeluarkan kebijakan baru, dan akan lebih baik jika pemerintah berkonsultasi terlebih dahulu dengan negara-negara yang terkena dampak peraturannya termasuk Filipina dan Indonesia.

Sementara itu, Gilman Siu, seorang profesor dari Departemen Teknologi Kesehatan dan Informatika Universitas Politeknik, mendukung tes wajib yang diperintahkan oleh pemerintah, dengan mengatakan ruang lingkup tes harus cukup besar untuk menghentikan transmisi diam-diam.

“PRT migran di Tung Chung sudah lama berada di Hong Kong. Selain di rumah, ada tempat dia akan tinggal di hari liburnya. Kesempatan itu membuat PRT migran menjadi kelompok berisiko tinggi. Itulah mengapa kita harus melihat bagaimana mengidentifikasi kasus-kasus ini dan mengidentifikasinya dengan cepat, karena jika kita bertindak terlalu lambat, itu dapat menyebabkan wabah komunitas yang serius, ” kata Gilman.

News Feed