by

Baby Jane, PRT Migran yang Dipecat Majikan Setelah Didiagnosis Kanker, Meninggal Karena Infeksi Ginjal

Seorang warga Filipina Baby Jane Allas, bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) migran dipecat oleh majikannya di Hong Kong pada Februari 2019 lalu, setelah didiagnosis menderita kanker. Program Pencegahan Kanker Pekerja Migran Hong Kong mengumumkan, bahwa perempuan tersebut telah meninggal dunia pada hari Sabtu (27/03) di usia 40 tahun dengan meninggalkan lima anak, Rabu (31/03/2021).

Dilansir dari AFP, Allas tiba-tiba diberhentikan dari pekerjaanya pada Februari 2019 lalu, saat sedang mengambil cuti sakit karena kanker serviks stadium tiga. Surat pemutusan kontrak kerjanya mengatakan alasan pemecatannya adalah karena penyakitnya dan terkait pengambilan cuti sakit.

Kisahnya sempat memicu kemarahan publik dan menyoroti eksploitasi puluhan ribu PRT migran di Hong Kong, yang dapat dipecat dengan mudah setelah didiagnosis menderita suatu penyakit. PRT migran dibiarkan dengan sedikit dukungan untuk menangani kasus mereka, dan seringkali tanpa akses ke perawatan kesehatan.

Allas adalah seorang ibu tunggal yang bekerja di Hong Kong sejak tahun 2017 untuk menghidupi keluarganya di Filipina. Setelah pemutusan hubungan kerja, secara ptomatis dia tidak lagi memenuhi syarat untuk mendapatkan perawatan gratis dari Otoritas Rumah Sakit Hong Kong.

Ibu tunggal dari lima anak ini langsung kehilangan hak atas perawatan kesehatan dan harus secara teratur mengajukan permohonan perpanjangan visa saat dia menavigasi sistem hukum dan imigrasi Hong Kong sambil berjuang melawan kanker.

Para pendukungnya mengumpulkan donasi dan mendanai perawatan hingga Allas berhasil mengatasi kankernya. Tetapi dia meninggal pada hari Sabtu lalu karena komplikasi yang berkaitan dengan infeksi ginjal.

“Baby Jane meninggal mendadak akhir pekan lalu di rumahnya di Filipina. Kami semua sangat terpukul oleh berita duka ini, terutama karena dia telah berhasil berjuang melawan kanker. Dan Allas sempat tinggal bersama kami selama hampir setahun selama perjuangan dan pengobatannya melawan kanker dan proses hukum, oleh sebab itu kami sangat patah hati mendengar berita itu,” kata Jessica Cutrera, seorang warga negara Amerika di Hong Kong yang memimpin kampanye crowdfunding atau pengumpulan donasi untuk biaya pengobatan dan menampung Allas setelah dipecat majikannya.

Allas mendapat ganti rugi sebesar HK$ 30.000 (US $ 3.860) dari mantan majikannya – yang berasal dari keluarga kaya Hong Kong asal Pakistan – untuk tunjangan sakit, biaya pengobatan, dan gaji sebagai pengganti pemberitahuan. Allas kembali ke Filipina tahun lalu tetapi berharap bisa kembali ke Hong Kong untuk dapat bekerja lagi.

Hampir 370.000 pekerja rumah tangga migran bekerja di Hong Kong. Sebagian besar adalah perempuan yang kurang mampu dalam hal finansial dari Filipina dan Indonesia yang bekerja dengan upah rendah, seringkali hidup dalam kondisi yang suram dan rentan. Namun mereka akan mengirimkan sebagian besar gajinya ke rumah untuk menghidupi keluarga di kampung halaman.

Meski begitu, otoritas pemerintah Hong Kong mengatakan, sistem yang dijalankan itu terbilang adil dan jarang terjadi pelanggaran.

Tetapi menurut para aktivis hak asasi manusia, PRT migran masih secara rutin dieksploitasi, dengan undang-undang yang memberi mereka sedikit perlindungan. Dimana biaya agensi yang mahal, persyaratan bagi PRT migran untuk tinggal bersama majikan mereka, upah bulanan minimum hanya HK $ 4,630 dan peraturan yang mengharuskan PRT migran yang dipecat untuk segera meninggalkan Hong Kong, menyebabkan PRT migran sangat rentan terhadap majikan yang kejam atau tidak bermoral.

News Feed