by

Selama 21 Tahun, IMWU Berjuang Untuk Kepentingan Pekerja Migran

Puluhan pekerja migran Indonesia (PMI) yang tergabung dalam Indonesian Migrant Workers Union (IMWU), pada hari Minggu (22/11) merayakan hari jadi yang ke-21 di Lapangan Rumput Victoria Park, Causeway Bay. Dalam acara tersebut mereka membuka posko pengaduan gratis terkait persoalan kondisi kerja, dokumen ditahan oleh agensi dan overcharging, Senin (23/11/2020).

Menurut Sustari yang menjadi panitia acara, kegiatan IMWU kali ini mengusung tema mendidik perempuan migran, agar bisa melindungi dan memperjuangkan keadilan, juga kesejahteraan bagi dirinya sendiri beserta keluarganya.

“Dalam masa pendemi seperti sekarang ini, kami memang mengalami kesulitan berkumpul karena harus menaati protokol kesehatan yang diberlakukan pemerintah. Namun kami masih terus menyuarakan perjuangan dan pendidikan untuk perempuan pekerja migran, agar lebih memahami hak-haknya dan tau cara untuk melindungi diri,” kata Sustari kepada Migran Pos.

Panitia juga menerapkan pengaturan tempat duduk dengan jarak aman satu setengah meter, yang hanya boleh diisi untuk empat PMI dalam setiap kelompok, dan mamastikan semua orang yang menghadiri kegiatan tersebut mengunakan masker sebagai upaya pencegahan penularan virus corona.

“Kami masih akan tetap menuntut agar pemerintah mendengarkan tuntutan – tuntutan yang kami suarakan, mulai dari hak dasar perempuan migran yang selama ini selalu dieksploitasi tanpa ada perlindungan hukum yang jelas. Bahkan ketika nyawa perempuan migran itu terancam, mereka tidak berani meminta pertolongan karena terikat kontra atau bahkan masih belum lunas potongan,” kata ketua IMWU Sringatin dalam pidatonya.

Menurut Sring, acara yang mereka selenggarakan tidak hanya merayakan ulang tahun organisasinya saja, tapi juga untuk kampanye melawan kekerasan terhadap perempuan, dan menuntut pemerintah untuk segera mengesahkan rancangan undang-undang PKS yang isinya sangat penting bagi perempuan karena mencakup sembilan jenis tindak pidana kekerasan seksual.

Kesembilan jenis tindak pidana tersebut yakni pelecehan seksual, eksploitasi seksual, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan aborsi, perkosaan, pemaksaan perkawainan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual, dan penyiksaan seksual. Kekerasan seksual meliputi peristiwa kekerasan seksual dalam lingkup relasi personal, rumah tangga, relasi kerja, publik dan situasi khusus lainnya.

Sementara itu beberapa PMI yang berlibur di sekitar area lapangan rumput mengaku tidak terlalu mengerti tentang kegiatan yang dilakukan oleh IMWU. Namun mereka menikmati pertujukan tarian tradisional jaranan ataupun tarian modern yang dibawakan oleh anggota IMWU untuk mengihibur teman-teman mereka.

“Saya sering melihat teman-teman melakukan kegiatan itu, walau saya tidak mengerti banyak tentang organisasi, tapi saya tahu teman – teman-teman itu suka bantu PMI yang lagi ada masalah gitu. Dan sering bikin acara kayak gini, hampir tiap minggu malah,” ujar Tuti, salah satu PMI yang berlibur dengan temannya di dekat tempat IMWU mengadakan acara.

News Feed