by

Hampir 45 Juta Penduduk Indonesia Tidak Percaya Adanya Pandemi COVID-19

Menurut hasil survei oleh badan pusat statistik (BPS) Covid-19 Indonesia, yang disampaikan oleh anggota tim komunikasi Satgas COVID-19, Tommy Suryopratomo, dalam webminar bertajuk Menjaga Harapan Masyarakat di Tengah Bencana, Jumat (2/10), ditemukan sebanyak 17 persen dari 270 juta rakyat Indonesia yang setara dengan hampir 45 juta jiwa tidak percaya dengan adanya COVID-19, Sabtu (3/10/2020).

Dilansir dari Detik.com Tommy menyebutkan bahwa sebanyak 45 juta orang Indonesian tidak mempercayai adanya COVID-19, dan menganggap diri mereka tidak akan tertular virus korona yang telah melumpuhkan ekonomi global. Menurut Tommy, bahayanya jika 45 juta orang itu justru secara tidak sadar berpotensi menjadi carrier atau pembawa virus.

“(Sebanyak) 45 juta orang ini kalau dia orang yang pembawa atau dia adalah seorang carrier maka bisa dibayangkan mobilitas yang terjadi karena 40 juta orang ini akan menimbulkan angka penularan yang seperti apa. Tidak heran kalau sekarang positivity rate-nya di Indonesia di atas 11 persen,” jelas Tommy.

Tommy kemudian berbicara tentang tantangan penyebaran COVID-19 akibat mobilitas masyarakat. Ia mengatakan virus flu burung dan flu babi dapat diatasi dengan cara memusnahkan hewan yang sudah terinfeksi.

Akan tetapi berbeda jika manusia yang berpotensi sebagai pembawa virus atau carrier karena tidak mungkin dimusnahkan. Oleh karena itu, salah satu cara mengatasinya adalah menerapkan protokol kesehatan pencegahan virus Corona, yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan membatasi mobilitas masyarakat.

“Ketika terjadi kasus flu babi, kita bisa lihat ada pemusnahan babi yang menjadi carrier dari adanya flu burung, yang jadi persoalan adalah pembawa atau carrier itu dari manusia. Kita nggak mungkin melakukan upaya musnahkan manusia, yang kita lakukan adalah pembatasan pergerakannya,” tambah Tommy.

Selain itu, Tommy mengingatkan agar protokol COVID-19 diterapkan meskipun ketika sedang berada dengan di dalam rumah. Sebab, menurutnya, penularan COVID-19 justru lebih sering terjadi dari orang terdekat karena menganggap aman sehingga tidak memakai masker maupun menjaga jarak.

Sebelumnya, Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Doni Monardo juga menyebutkan masih ada 17 persen atau setara dengan 44,9 juta warga Indonesia yang tak percaya COVID-19. Dia menyebut angka itu masih sangat tinggi.

Hal itu diungkapkan Doni dalam acara Sosialisasi Strategi Perubahan Perilaku Protokol Kesehatan Pencegahan COVID-19 secara virtual, Jumat (2/10). Doni sekaligus menilai sosialisasi perubahan perilaku itu penting untuk meyakinkan masyarakat akan adanya COVID-19.

“Pertama, saya selaku Ketua Satgas ingin memberikan apresiasi kepada BKKBN, yang pada hari ini menyelenggarakan sebuah program untuk perubahan perilaku. Kenapa program ini sangat strategis, karena ternyata Bapak-Ibu sekalian, masih ada 17 persen warga negara kita yang masih belum percaya dan merasa yakin tidak akan kena COVID,” kata Doni.

Doni menyebutkan bahwa hal ini menjadi tantangan tersendiri, harus bagaimana memberikan sosialisasi atau penjelasan kepada masyarakat umum terkait bahayanya wabah COVID-19 ini. Sebab, angka positif COVID-19 di Indonesia jumlahnya terus mengalami peningkatan. Doni meminta tolong masyarakat Indonesia untuk mengingat permintaan oleh pakar epidemiologis. Menurutnya, mematuhi protokol kesehatan tidaklah sebanding dengan perjuangan para dokter do garda terdepan.

“(Angka) 17 persen ini adalah suatu angka yang sangat tinggi sekali atau sangat besar sekali, 17 persen dari 270 juta warga negara kita itu setara dengan sekitar 44,9 juta orang. Jadi 44,9 juta orang warga negara kita merasa tidak mungkin terpapar COVID. Ini menjadi tantangan kita semua. Bagaimana kita harus menjelaskan kepada masyarakat bahwa COVID ini adalah nyata, COVID ini bukan rekayasa, COVID bukan konspirasi,” lanjut Doni.

News Feed