by

CHP Mengaku Kecolongan Kasus PRT Migran Positif Covid-19 Karena Kendala Bahasa

Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang menjadi pasien leukaemia di Rumah Sakit Eastern Hospital, dan diketahui berusia 44 tahun dinyatakan positif tertular virus korona setelah hasil tesnya keluar pada Sabtu (21/8). Otoritas kesehatan mencari tahu, bagaimana kontak dekat pasien Covid-19 yang menghabiskan waktu hampir sebulan di rumah sakit tersebut tanpa dipisahkan dari pasien lainnya, karena seharusnya PMI itu ditempatkan di karantina sejak bulan Juli 27 setelah keluarga majikanya ada yang positif terinfeksi Covid-19, Senin (24/8/2020).

Menurut data dari Pusat Perlindungan Kesehatan (CHP) ketika PMI tersebut dirawat sempat menjalani tes virus korona yang menunjukkan hasilnya negative, namun sehari kemudian otoritas kesehatan menemukan fakta bahwa PMI tersebut, sempat melakukan kontak dekat dengan majikanya yang dikonfirmasi menjadi pasien Covid-19 pada bulan lalu.

Dr Chuang Shuk-kwan jurubicara CHP mengatakan, keluarga majikan tidak memberi tahu pihak berwenang jika pekerjanya telah dirawat di Rumah Sakit Eastern Hospital, dan petugas mengakui telah keliru mengira jika PMI tersebut tinggal bersama anggota keluarga lainnya, ketika mereka diperintahkan untuk menjalani karantina.

“Kami mengira PMI tersebut ada di rumah bersama majikanya. Selama ini, pejabat yang bertugas tidak pernah berbicara secara langsung dengan PMI tersebut, karena dia tidak bisa berbahasa Inggris atau Mandarin dengan baik, jadi kami hanya mengandalkan anggota keluarga majikannya untuk mendapatkan informasi,” jelas Chuang.

Chuang mengatakan, pihak berwenang telah mengeluarkan perintah karantina untuk PMI tersebut, namun dikarenakan dia sudah dirawat di rumah sakit pada waktu itu, otoritas kesehatan menyampaikan perintah karantina akan ditangani oleh tim lain. Namun pihaknya mengakui, kemungkinan telah terjadi kesalahan petunjuk sehingga PMI tersebut melewatkan masa karantina.

“Saya harus minta maaf atas kejadian tersebut. Kami masih mencari tahu dimana letak kesalahan itu bermula, karena tidak memberi tahu Otoritas Rumah Sakit [tentang] kasus tersebut. Dan para pejabat sedang mencari solusi untuk meningkatkan sistem, agar lebih mudah melakukan pelacakan kasus,” jelas Chuang.

Dilansir dari RTHK, ini bukan pertama kalinya masalah bahasa menyebabkan kebingungan CHP, sebelumnya pejabat pemerintah tersebut melaporkan kekeliruan tentang puluhan PRT migran, yang terpapar virus corona telah meninggalkan rumah kos karena mereka telah masuk ke rumah majikan masing-masing, namun kenyataanya pekerja migran masih tingal di asrama dan belum pindah kemana-mana. Pihak CHP telah mengakui kesalahan mereka dikarenakan kesulitan komunikasi karena terkendala bahasa.

Sementara itu, seorang kepala manajer dari Otoritas Rumah Sakit, Dr Lau Ka-hin mengatakan, bahwa PMI yang menjadi pasien leukaemia tersebut sempat mengalami demam yang berselang-seling sejak dia dirawat, namun hal ini konsisten dengan hubungan leukemianya dan jumlah sel darah putihnya yang rendah. Lau juga menambahkan, PMI tersebut telah dites negatif untuk Covid-19 pada hari pertamanya masuk rumah sakit.

“Menurut saya para dokter yang [merawat] pasien sesuai dengan gejala dan juga hasil laboratorium secara klinis, karena pasien menderita leukemia dan juga sel darah putih yang rendah, jadi sangat sulit untuk mendeteksi penyebab lain dari demam yang pasien alami,” ujar Lau.

Saat ini, lebih dari lima puluh orang yang pernah melakukan kontak dengan PMI tersebut selama dia tinggal di dua bangsal di rumah sakit Eastern Hospital akan diisolasi, meskipun sejauh ini tidak ada yang dinyatakan positif Covid-19.

News Feed