by

Belasan PRT Migran Didenda HK$2000 Karena Langgar Aturan Berkumpul

Pada hari Minggu (9/8), Polisi Hong Kong yang berpatroli di beberapa area yang sering dikunjungi pekerja rumah tangga (PRT) migran di hari libur mengatakan telah memberikan hukuman kepada 11 orang yang masing-masing harus membayar denda sebesar HK$ 2.000 karena dianggap telah melanggar peraturan berkumpul selama wabah Covid-19, Senin (10/8).

Dilansir dari HKFP, polisi melakukan tindakan penegakan hukum di area Central dan Causeway Bay sepanjang akhir pekan, dan membuat pengumuman publik dengan menggunakan megafon untuk mempromosikan larangan pertemuan kelompok lebih dari dua orang. Beberapa petugas juga membawa meteran besar untuk mengukur, apakah setiap kelompok yang terdiri dari dua orang telah menjaga jarak 1,5 meter atau tidak, sementara yang lain membagikan selebaran tentang wajib memakai masker di tempat umum.

Hari Minggu adalah satu-satunya hari libur bagi sekitar 400.000 PRT migran di Hong Kong, setelah bekerja selama enam hari di rumah majikan dengan jam kerja yang panjang, biasanya mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk beristirahat atau bertemu dan berkumpul dengan teman-temannya di ruang publik.

Naasnya, selama Covid-19 melanda, PRT migran tidak lagi bisa beristirshat dengan tenang, karena himbauan pemerintah yang mendiskriminasi keberadaan mereka sebagai pendatang yang tidak memiliki tempat pribadi untuk berteduh. Polisi mengatakan di laman Facebooknya, bahwa mereka mengeluarkan 11 tiket penalti pada jam 6 sore di hari Minggu itu. Jumlah denda tetap sebesar HK$ 2.000, merupakan hampir setengah dari upah minimum bulanan PRT migran yang hanya berkisar sekitar HK$ 4,630.

“Saya merasa sangat marah, karena pemerintah Hong Kong dengan sengaja mengerahkan polisi dan pihak berwenang lainnya, untuk menargetkan komunitas pekerja rumah tangga migran. Sayang sekali, alih-alih memberi kami ruang untuk beristirahat, mereka ingin memproyeksikan kami sebagai penyebar Covid-19 dan memperlakukan kami seolah-olah kami ini adalah penjahat,” kata Sringatin kepada HKFP.

Pekan lalu, muncul kekhawatiran, bahwa fasilitas asrama agen tenaga kerja mungkin akan menjadi cluster Covid-19. Karena biasanya, tempat itu diisi oleh sekitar 20 lebih PRT migran yang berbagi satu unit tempat tinggal, untuk menanti kelanjutan proses visa mereka atau menunggu majikan baru mempekerjakan mereka. Karena tidak mendapatkan akomondasi dari pemerintah negara asal maupun Hong Kong, dan mahalnya biaya sewa gedung dan kehidupan di kota ini, ribuan PRT migran harus rela tingal bersesakan di asrama milik agen mereka.

Sejak Covid-19 pertama kali terdeteksi di Hubei, Cina, hampir 20 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi Covid-19, sementara lebih dari 731.000 jiwa telah meninggal karena penyakit mirip dengan SARS menurut para peneliti di Universitas Johns Hopkins. Di Hong Kong sendiri sudah lebih dari 4.000 kasus yang dikonfirmasi dengan 54 orang meninggal dunia.

News Feed