by

PRT Migran Terpaksa Tinggal di Kos Karena Lambannya Proses Visa

Ketua Asosiasi Agen Tenaga Kerja Hong Kong, Teresa Liu mengatakan keterlambatan dalam pemrosesan visa karena pengaturan kerja dari rumah, telah menyebabkan setidaknya sebanyak 6.000 pekerja rumah tangga (PRT) migran untuk tinggal di asrama, ketika mereka sedang menunggu visa untuk kembali bekerja di Hong Kong, Kamis (6/8/2020).

Dilansir dari RTHK, komentar Liu muncul, setelah pihak berwenang mengatakan mereka berusaha mencari 28 PRT migran dan majikan mereka, setelah terungkap bahwa seorang pekerja rumah tangga dari Indonesia dinyatakan positif COVID-19, dan sempat tinggal di kos bersama para pekerja tersebut ketika dia sedang mencari pekerjaan baru.

Berbicara kepada sebuah program radio RTHK, Liu mengatakan bahwa sekarang waktu tunggu untuk visa turun adalah selama dua bulan, karena penundaan resmi terkait dengan kebijakan pemerintah kerja dari rumah yang diberlakukan sebagai bagian dari langkah-langkah menjaga jarak sosial.

Dia mengatakan bahwa di masa lalu, biasanya agen memiliki kurang lebih 10 PRT migran yang tinggal di asrama untuk menunggu visa, tetapi di masa pendemik ini asrama-asrama harus menampung puluhan perempuan dari Indonesia dan Filipina.

Liu mengatakan puluhan PRT migran yang diwakili oleh agensinya telah dilarang meninggalkan rumah kos mereka, dan diharuskan memakai masker setiap saat untuk mengurangi risiko tertular Covid-19. Mereka juga harus memeriksakan suhu mereka secara teratur. Namun dia mengakui tidak semua agensi bisa melakukan disiplin seperti itu.

Menurut Liu, saran oleh ahli mikrobiologi Universitas Hong Kong Dr Ho Pak-leung untuk melakukan pengujian massal pada semua PRT migran yang sedang menunggu visa di asrama bukanlah ide yang bagus. Liu mengatakan, bahkan jika hasil tes mereka negatif, beberapa dari mereka tinggal di sana selama berminggu-minggu dan akan sulit untuk melacak kondisi mereka terus-menerus.

“Sekarang di rumah kos kami, kami harus mengukur suhu badan setiap pagi dan sore hari, dan kemudian kami tidak mengizinkan mereka keluar, dan kemudian mereka harus membersihkan tempat tinggalnya dua kali setiap hari” kata Liu.

Di program radio yang sama setelah Liu adalah ketua Asosiasi Majikan di Hong Kong, Betty Yung, yang meminta pihak berwenang untuk memastikan semua PRT migran mengikuti langkah-langkah penanganan Covid-19.

Yung mengatakan, bahwa ia melihat para pekerja tidak mengenakan masker, ketika mereka berkumpul di tempat-tempat seperti Causeway Bay pada hari libur mereka.

Dia mengatakan bahwa majikan tidak dapat memaksa pekerja mereka untuk tetap tinggal di rumah saja ketika hari libur, dan yang bisa mereka lakukan adalah meminta kepada pekerja untuk mengambil semua tindakan pencegahan, dan mengingatkan PRT-nya tentang pembatasan anti-epidemi yang diterapkan oleh pemerintah.

Yung juga mengatakan, bahwa beberapa majikan menderita masalah kesehatan mental, setela PRT-nya bersikeras untuk keluar pada hari libur mereka.

News Feed