by

Sebutan Mana yang Benar: TKI, BMI atau PMI?

Setiap tahun tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Sedunia atau May Day. Biasanya selain diperingati dengan menggelar aksi damai, kaum buruh sedunia juga menjadikannya hari untuk mengingat siapa itu buruh dan sejarah perjuangannya. Tapi Migran Pos kali ini ingin menjadikan hari bersejarah ini untuk memahami sebutan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), Buruh Migran Indonesia (BMI) dan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang masih sering diperdebatkan di kalangan PMI sendiri.

 Istilah Buruh dan Pekerja Menurut Sejarah

Menurut Asyhadie Zaeni dalam buku Hukum Kerja: Hubung Ketenagakerjaan Bidang Hubungan Kerja (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007) dan Lalu Husni dalam Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo, 2008), istilah “buruh” berkonotasi pekerja kasar dan lebih menggunakan tenaga (otot) daripada otak dalam bekerja, misalnya buruh tani, kuli bangunan, tukang kayu, tukang batu, dan tenaga kerja bongkar muat Pelabuhan. Sedangkan Pekerja atau tenaga kerja, dan karyawan berkonotasi buruh yang lebih tinggi dan lebih menggunakan otak ketimbang otot dalam melakukan kerja, meski pada intinya sama-sama pekerja.

Pada zaman feodal dan zaman penjajahan Belanda, istilah buruh ditujukan bagi para pekerja kasar, seperti kuli, tukang, dan lain-lain atau disebut juga blue collar (berkerah biru). Sedangkan istilah pekerja ditujukan kepada para bangsawan dan orang-orang yang yang mengerjakan pekerjaan halus, seperti pegawai administrasi yang biasa duduk di belakang meja kantor atau disebut juga dengan white collar (berkerah putih).

Namun, setelah Indonesia merdeka, tidak lagi dikenal istilah “buruh halus” dan “buruh kasar”. Semua orang yang bekerja di sektor swasta, baik bekerja pada perorangan maupun lembaga sama-sama disebut buruh.

Dalam perkembangan hukum perburuhan di Indonesia kemudian, istilah buruh diupayakan untuk diganti dengan istilah pekerja karena sebutan buruh lebih cenderung menunjuk pada golongan yang selalu ditekan dan berada dibawah pihak lain yakni kaum majikan atau pengusaha.

Istilah Buruh dan Pekerja Secara Bahasa

Secara bahasa, istilah atau sebutan yang tepat bagi orang yang bekerja adalah “pekerja” dengan kata dasar “kerja”. Arti ‘kerja’ menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) adalah “sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah; mata pencaharian; bekerja”.

Di Indonesia sebutan untuk orang yang bekerja mencari nafkah atau mata pencaharian secara bahasa juga ada beberapa macam, yakni 1) Buruh (orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah; pekerja), 2) Pekerja (orang yang bekerja; orang yang menerima upah atas hasil kerjanya; buruh; karyawan), 3) Tenaga Kerja (orang yang bekerja atau mengerjakan sesuatu; pekerja, pegawai; orang yang mampu melakukan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja), 4) Pegawai (pekerja di kantor; karyawan) dan 5) Karyawan (orang yang bekerja pada suatu lembaga atau kantor, perusahaan, dan sebagainya dengan mendapat gaji atau upah; pegawai; pekerja).

Tampak jelas dari pemaparan di atas, pengertian kelima istilah tersebut hakikatnya sama, yakni sama-sama merujuk pada orang yang bekerja (worker).

Penggantian Sebutan TKI Menjadi PMI oleh Pemerintah Indonesia

Awalnya secara legal formal, dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, penyusun Undang-undang di Indonesia menggunakan dua istilah sekaligus, yakni buruh dan pekerja, menggunakan garis miring: buruh/pekerja. Dengan penjabaran: Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. (Pasal 1 ayat 3).

Berdasarkan UU tersebut, pemerintah menggunakan sebutan TKI untuk warganya yang menjadi pekerja migran di luar negeri. Sementara di kalangan para pekerja migran, terutama di Hong Kong, seiring bertumbuhnya kesadaran tentang apa itu buruh dan perjuangannya, sebagian besar lebih sering menyebut diri dan kelompoknya sebagai Buruh Migran Indonesia (BMI)

Namun sejak tahun 2017,  setelah sebelumnya istilah TKI sempat diganti menjadi “ekspatriat” oleh Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri, pemerintah Indonesia secara resmi menggunakan istilah atau sebutan tunggal untuk orang yang bekerja di luar negeri yakni Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Menurut pemerintah, penggantian nama TKI menjadi PMI tersebut disesuaikan dengan Undang Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Per definisi, PMI adalah setiap warga negara Indonesia yang akan, sedang, atau telah melakukan pekerjaan dengan menerima upah di luar wilayah Republik Indonesia.

Penggantian istilah tersebut juga diikuti dengan penggantian nama lembaga dari BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia ) menjadi BP2MI, (Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia) dan Balai Pelayanan dan Penempatan TKI (BP2TKI) menjadi Pelaksana Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).

Dengan demikian, istilah TKI, BMI, dan TKW yang bermakna sama dengan PMI mestinya sudah tidak digunakan atau menjadi perdebatan lagi. Menurut pendapat saya pribadi sebagai bagian dari PMI, bagi kaum buruh/pekerja apapun istilah atau sebutan yang digunakan tak lagi penting dibanding dengan bagaimana mengupayakan perubahan dan peningkatan kesejahteraan kami. Selamat Hari Buruh Sedunia!

News Feed