by

PMI yang Menjadi PRT Migran Penyelamat Bisnis Remitansi Bank di Indonesia

Industri perbankan optimistis bisnis remitansi mereka akan tetap dapat bertumbuh pesat tahun ini meski pandemi Covid-19 membuat perekonomi dunia terpuruk. Karena bisnis remitansi di Indonesia didominasi oleh pekerja migran Indonesia (PMI) yang sedang berada di negara penempatan dan tetap bekerja di tengah berlangsungnya pandemi, Rabu (1/4/2020).

Berdasarkan data remitansi PMI oleh Bank Indonesia dan BNP2TKI, nilai yang tercatat pada 2019 adalah sebesar US$11,435 miliar. Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 4,2 persen dibandingkan dengan posisi 2018 yang senilai US$10,974 miliar.

Meskipun demikian, Ekonom Bank Central Asia David E. Sumual mengatakan tidak memungkiri penurunan bisa saja terjadi jika PMI yang berprofesi sebagai buruh pabrik di luar negeri harus terpaksa dirumahkan.

Namun, pengaruh penurunannya pun dinilai tidak signfikan karena pekerja berstatus pekerja rumah tangga (PRT) Migran lebih dominan.

“Dibandingkan dengan bisnis lain, remitansi masih normal. Kalau mungkin turun, turunnya tidak banyak, karena transaksinya tidak perlu melibatkan perpindahan barang maupun orang.” kata David dikutip dari Bisnis, Senin (30/3/2020).

SVP Retail Deposit Product & Solution Bank Mandiri Muhamad Gumilang mengatakan, bisnis remitansi retail masih menjanjikan dengan potensi transaksi incoming bersumber dari Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi pekerja migran dan ekspatriat yang berada di luar negeri.

Begitu juga dengan potensi outgoing yang masih besar karena nasabah yang masih mempercayai bank sebagai channel utama dalam pengiriman uang ke luar negeri. Hanya saja, di tengah kondisi penyebaran Covid-19, saat ini terdapat sinyal perlambatan dari negara-negara penempatan PMI seperti Hongkong, Malaysia, dan Timur Tengah.

“Namun, kami optimis kebutuhan pengiriman uang ke Indonesia akan segera kembali normal seperti sebelumnya,” kata Muhamad dikutip dari Bisnis, Senin (30/3/2020).

Setidaknya hingga Desember 2019, frekuensi remitansi retail incoming dan outgoing Bank Mandiri mampu mencapai lebih dari 900.000 transaksi, atau tumbuh sebesar 3 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu (year on year/yoy). Selain itu, volume remitansi retail mencapai lebih dari US$20.000 juta atau tumbuh sebesar 4 persen secara yoy.

Transaksi incoming mayoritas berasal dari Malaysia, Hong Kong, Saudi Arabia, Singapura, dan Amerika Serikat dengan total mencapai lebih dari 70 persen keseluruhan transaksi. Sementara itu, outgoing remittance didominasi ke 5 negara tujuan, yaitu China, Singapura, Amerika Serikat, Hong Kong, dan Australia dengan persentase mencapai hampir 50 persen dari keseluruhan transaksi.

“Pencapaian tersebut berdampak pada pendapatan (FBI) remitansi melebihi target 2019,” kata Muhamad.

Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA Hera F Haryn mengatakan, pihaknya akan terus membangun kerja sama erat dengan bank-bank koresponden untuk memenuhi kebutuhan transaksi remitansi nasabah. Jaringan bank koresponden memberikan akses bagi BCA dalam melayani transaksi remitansi dengan berbagai mata uang.

Sebagai informasi per Desember 2019, jumlah transaksi remitansi BCA berada pada kisaran 5 juta transaksi atau tumbuh 39 persen yoy, sedangkan dari sisi nilai transaksi tercatat sebesar US$84 miliar atau meningkat 8 persen yoy.

“BCA didukung oleh jaringan bank-bank koresponden yang luas, BCA menawarkan layanan multicurrency yang memungkinkan nasabah mengirimkan uang dalam 124 mata uang asing di seluruh dunia,” kata Hera.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menilai kondisi lockdown tidak akan berpengaruh signifikan pada penurunan bisnis remitansi. Pasalnya, tidak semua negara menerapkan lockdown dan begitu juga kondisi PMI yang sebagian besar berprofesi sebagai PRT.

Hanya saja, menurutnya, meskipun remitansi tetap berjalan normal tetap tidak bisa menjadi andalan menutupi menurunnya kredit. Transaksi remitansi hanya memberikan income fee dan selisih kurs, bukannya spread bunga.

News Feed