by

Perwakilan Kelompok Majikan Meminta Pemerintah Tutup Area Jembatan Untuk Menghentikan PRT Migran Berkumpul

Sebuah kelompok yang mewakili para majikan dari pekerja rumah tangga  (PRT) migran di Hong Kong, telah mendesak pemerintah untuk menutup daerah-daerah pejalan kaki di seluruh kota untuk mencegah PRT Migran berkumpul dalam jumlah besar di hari libur, Senin (30/3/2020).

Dilansir dari RTHK, siang ini Kelompok Dukungan untuk Majikan Hong Kong yang memiliki PRT migran mengatakan bahwa PRT Migran tetap memaksa untuk pergi keluar pada hari liburnya meskipun telah ditawari uang untuk tetap tinggal di dalam rumah, tanpa bekerja.

Joan Tsui, ketua kelompok tersebut, mengatakan dalam program RTHK bahwa beberapa PRT Migran tidak peduli dengan wabah Covid-19. Bahkan mereka menolak untuk berperan dalam menghentikan penyebarannya.

Tsui juga mengatakan, beberapa PRT Migran tidak mau mempraktikkan menjaga jarak sosial minimal satu meter, dan dengan senang hati akan melanggar peraturan baru yang melarang pertemuan lebih dari empat orang untuk sementara waktu.

“Kami merasa para PRT migran ini hidup di alam semesta yang paralel. Ini adalah celah penyebaran Covid-19 jika mereka tidak bersedia bekerja sama dengan majikan,” kata Tsui.

Menurut Tsui, PRT Migran berpikir bahwa Hong Kong memiliki sistem kesehatan masyarakat yang baik, sehingga jika mereka tertular Covid-19 mereka bisa pergi ke rumah sakit untuk dirawat dengan mudah.

Tsui juga mengatakan, para PRT Migran dari Indonesia mungkin yang paling puas diri, karena mereka percaya bahwa hanya orang-orang dari Filipina yang tertular virus tersebut. Tsui menyarankan konsulat dari Negara Indonesia yang bertugas di Hong Kong harus memberikan lebih banyak informasi kepada warga mereka.

Selain itu Tsui juga menambahkan, bahwa para PRT Migran tidak akan peduli dengan aturan baru tentang menjaga jarak sosial, kecuali pihak berwenang mulai menangkap dan menuntut mereka secara hukum yang berlaku.

Pekan lalu, Badan Koordinasi Migran Asia menunjukkan bahwa dengan meminta para PRT migran untuk “tinggal di rumah”, sama saja pemerintah meminta PRT Migran untuk “tetap bekerja” di hari liburnya.

News Feed