by

Cerita Pipit: PMI Baru yang Dikarantina di Hotel Oleh Majikan

Di tengah keresahan dan isu juga permasalahan sehubungan karantina Pekerja Rumah Tangga (PRT) Migran, Pipit, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang sedang menjalani karantina 14 hari berbagi ceritanya untuk sesama PRT Migran di Hong Kong.

Pipit Ngeri Dikarantina

Pipit, PMI asal Cepu, Jawa Tengah, sedang persiapan berangkat ke Hong Kong untuk kontrak barunya dengan majikan baru ketika ‘peraturan wajib karantina 14 hari’ diumumkan. Mendengar kata ‘karantina’ dan ancaman bahaya Virus Corona Pipit sempat panik juga.

“Mendengar kata karantina, saya merasa khawatir dan ngeri. Nggak ada bayangan seperti apa sih rasanya dikarantina 14 hari,” tutur Pipit kepada Migran Pos melalui sambungan seluler, Senin (23/3/2020).

Pipit mengaku berusaha menanyakan ke pihak PJTKI Semarang yang telah menampungnya selama 3 bulan dan mendapatkan jawaban kalau soal karantina itu akan dilakukan di ‘boarding house’ agen atau bisa juga di rumah majikan.

Prosedur di Bandara Hong Kong

Menurut penuturan Pipit, ia terbang ke Hong Kong dari Bandara Soetta Jakarta pada tanggal 19 Maret dan tiba di Chep La Kok malam hari.

Begitu turun dari pesawat, sebelum memasuki Imigrasi, Pipit mendapatkan pengecekan suhu badan oleh petugas dan mendapatkan 3 formulir yang harus diisi.

Satu formulir adalah tentang data pribadi dan riwayat kesehatan serta perjalanan (nomor pesawat dan tempat duduk), sedangkan dua formulir lainnya adalah formulir karantina yang harus diisi data pribadi dan alamat majikan.

Setelah semua formulir diisi dan dicek oleh petugas, selain mendapatkan kembali 2 formulir karantina yang telah diisinya, Pipit juga mendapatkan gelang karantina dan amplop yang berisi panduan tata cara karantina dan informasi lainnya.

Selanjutnya Pipit mengantre di Imigrasi dan menyerahkan paspor dan kontrak serta satu lembar formulir karantina. Satu lembar sisanya (yang isinya sama) harus disimpan Pipit sendiri.

Setelah melewati Imigrasi dengan lancar, berhubung hari sudah larut malam, Pipit menginap di Bandara sebelum keesokan paginya dijemput staff agen.

Pengaturan Karantina oleh Majikan dan Agen

Bersama teman-teman lainnya sesama PMI baru yang datang dari Indonesia, Pipit dibawa ke kantor agen di mana majikan masing-masing juga sudah menunggu untuk pengaturan karantina.

“Kami semua diketemukan dengan majikan masing-masing. Ada teman yang langsung dibawa pulang ke rumah majikan dan dikarantina di rumah, ada yang diputuskan karantina di tempat agen. Sementara saya oleh majikan sudah dicarikan penginapan untuk karantina,” tutur Pipit.

Pipit yang mendapatkan job menjaga dua anak berusia 7 tahun dan 9 tahun di area Diamond Hill mengatakan ketika menjemputnya, majikan juga membawakannya simcard yang berisi paket Internet untuk dipasang di hapenya dan digunakan untuk mengunduh aplikasi ‘Stay Home Safe’ guna mengaktifkan borkade yang ada di gelang karantina yang dipakainya setelah mendapatkan kiriman PIN melalui SMS dari Departemen Pusat Perlindungan Kesehatan Hong Kong.

Selanjutnya Pipit menjalani karantina di kamar hotel atau penginapan yang telah disewa majikannya selama 14 hari. Selain membayar sewa kamar, majikan juga menyediakan camilan sehari-hari Pipit juga memberikan uang makan sebesar HK$ 1500 untuk 14 hari.

Pipit yang sebelumnya sudah pernah bekerja di Hong Kong dan Macau tersebut mengaku bahwa di rumah majikan sebenarnya ia akan memiliki kamar pribadi. Namun karena majikan ingin aman maka sengaja mengatur agar Pipit karantina di luar rumahnya.

Ditanya bagaimana rasanya menjalani karantina yang sudah dijalaninya selama 3 hari, meski enak, Pipit mengaku merasa bosan karena tidak ada kegiatan dan tidak bekerja sebagaimana hari-hari biasanya.

Kepada teman-teman sesama PMI di Hong Kong, Pipit mengatakan melalui pengalaman yang dibagikannya, ia ingin teman-teman yang lainnya tidak panik dan takut berlebihan serta selalu mengikuti perkembangan informasi terbaru yang bisa dipercaya agar bisa tetap tenang.

“Sedangkan untuk teman-teman lainnya yang sebenarnya kurang paham informasi yang benar, saya berharap jangan lagi menyebar hoax dan berhenti membuat keresahan di kalangan PMI sendiri,” ujar Pipit.

News Feed