by

Majikan yang Memukul Mulut PRT Migran Dengan Penumbuk Daging Jalani Persidangan

Seorang majikan perempuan di Singapura yang diketahui bernama Mun Sau Yeng (40th) menjalani persidangan karena telah memukul mulut pekerja rumah tangga (PRT) migran dengan alat penumbuk daging hingga 3 gigi korban lepas, Jumat (20/3/2020).

Dilansir dari The Straits Times, PRT yang menjadi korban pemukulan bernama Yuni Dwi Lestari yang berusia 25 tahun. Yuni terpaksa melakukan apa yang diperintahkan majikannya, memukul giginya sendiri dengan penumbuk daging sebanyak 50 kali, pada 4 Februari tahun lalu karena takut.

Menurut kronologi kejadian, ketika Mun menemukan bercak bekas jari tangan di jendela dapur, ia meminta korban untuk memukul giginya sendiri dengan penumbuk daging sekitar 50 kali. Karena ia menginginkan pekerjanya kehilangan giginya kemudian dia mengabil alih penumbuk daging dan memukul mulut korban dengan keras hingga membuat tiga gigi di rahang bawah PRT lepas.

Penganiayaan terhadap korban bukan hanya terjadi sekali, Mun telah melakukannya beberapa kali antara bulan Juni 2018 sampai Februari tahun lalu di flat Drive Anchorvale di Sengkang, Singapora.

Hanya tiga hari setelah insiden yang melibatkan penumbuk daging, Mun meninju mulut Yuni sekitar 10 kali yang mengakibatkan gigi korban rontok dan bibirnya berlumuran darah. Korban dibiarkan terluka tanpa dibawa kerumah sakit untuk diobati. Mun menyiksa Yuni lagi sekitar empat hari kemudian dengan menampar pipi kiri korban berkali-kali hingga memar dan membengkak.

Karena sudah tidak tahan dengan kekerasan yang diterimanya, pada 15 Februari tahun Yuni menghubunggi Pusat Pegawai Rumah Tangga (CDE), yang didirikan pada 2016 oleh Kongres Serikat Buruh Nasional untuk membantu para pekerja yang tertekan. Setelah menerima pengaduan tersebut, pihak CDE segera menghubunggi kepolisian setempat untuk melaporkan tindakan Mun terhadap korban.

Pada hari Rabu (18/3), Mun mengaku bersalah di pengadilan distrik atas tiga tuduhan penyiksaan terhadap Yuni. Empat tuduhan serupa lainnya yang melibatkan Yuni akan dipertimbangkan selama hukumannya.

Wakil Jaksa Penuntut Umum (DPP) Muhamad Imaduddien mengatakan bahwa PRT tersebut mulai bekerja di flat Drive Anchorvale di Sengkang sejak bulan April 2018. Sekitar tujuh bulan kemudian, Mun menjadi marah setelah mengetahui bahwa Yuni telah memakan sekaleng sarden untuk makan siang yang seharusnya untuk lauk makan malam, dari situlah tindakan kasar Mun dimulai.

“Terdakwa berpandangan bahwa korban akan mengingat rasa sakit yang lebih baik jika korban meninju dirinya sendiri. Terdakwa tidak membawa korban untuk menemui dokter karena dia sadar bahwa yang dia lakukan itu salah. Selain itu, dia memerintahkan korban untuk memiringkan kepalanya ke bawah sepanjang hari karena dia ingin mencegah suaminya melihat cedera korban,” kata Muhammad.

Pada hari Rabu (18/3) DPP mendesak Hakim Distrik Kan Shuk Weng untuk menghukum Mun setidaknya 15 bulan penjara dengan menekankan bahwa dia telah melakukan pelanggaran dengan “cara yang diperhitungkan dan disengaja”.

Pengacara pembela Kalidass Murugaiyan memohon hakim untuk meminta laporan guna menilai kesesuaian kliennya dengan masa percobaan.

Dia mengatakan kepada pengadilan bahwa sebuah laporan dari Institute of Mental Health menyatakan bahwa Mun memiliki depresi dan gangguan obsesif-kompulsif. Pengacara juga mengatakan bahwa Mun mengalami gangguan kepribadian dengan terobsesi pada kebersihan dan memiliki riwayat kebiasaan makan abnormal yang negatif.

Mun yang saat ini dalam masa jaminan sebesar S$ 5.000, diperkirakan akan menerima putusan hukuman pada 6 Mei mendatang. Untuk kasus memukul PRT dengan penumbuk daging, Mun bisa dihukum penjara hingga 10½ tahun beserta denda. Sedangkan untuk setiap tuduhan yang melibatkan tindakan pelecehan serta kekerasan lainnya, Mun dapat dipenjara hingga tiga tahun dan didenda sebesar S$ 7.500.

News Feed