by

Italia Laporkan Kematian Pertama Pasien Covid-19

Pemerintah Italia pagi ini mengkonfirmasi kematian pertama pasien yang positiv terserang virus Corana di wilayahnya, yaitu seorang pria berusia 78 tahun yang berasal dari kota Veneto Utara yang meninggal dunia pada hari Jumat kemarin, Sabtu (22/2/2020).

Dilansir dari RTHK, menurut Giulio Gallera kepala kesehatan daerah Lombardy setidaknya 14 kasus baru telah dikonfirmasi, disinyalir infeksi tersebut melalui penularan sekunder yang menjadikan total korban menjadi 19 orang, yang tersebar di beberapa kota kecil di Milan. Akibatnya pemerintah setempat meminta penutupan beberapa sekolah, restoran dan toko.

“Qabah ini telah kami prediksikan, meski kami semua tidak berharap epidemi akan secepat ini menyebar,” kata Gallera.

Otoritas kesehatan mengatakan, korban pertama yang jatuh sakit adalah seorang Italia berusia 38 tahun, diketahui pasien tersebut telah bertemu dengan seseorang yang baru kembali dari China pada 21 Januari tanpa menunjukkan gejala terinfeksi virus. Namun orang tersebut kini telah diisolasi.

Beberapa orang yang melakukan kontak secara langsung dengan pasien mengalami gejala yang mirip. Berita tentang penularan itu memicu kekhawatiran di seluruh wilayah tersebut, terutama mengingat penutupan ruang gawat darurat di rumah sakit Codogno.

“Kami sudah tua dan kami sangat prihatin dengan para korban, namun saya tinggal sendirian dan tidak tahu harus berbuat apa,” ujar seorang warga Codogno, Carmelo Falcone (76th) seperti dikutip RTHK.

Menteri Kesehatan Italia Roberto Speranza mengatakan, saat ini wilayahnya menghadapi kasus yang sama dengan Jerman dan Prancis. Roberto menandatangani perjanjian dengan kepala daerah Lombardy agar menunda pertemuan publik, kegiatan komersial dan bisnis, olahraga, pendidikan, dan kegiatan rekreasi di 10 kota: Codogno, Castiglione d’Adda, Casalpusterlengo, Maleo, Fombio, Bertonico, Castelgerundo, Terranova dei Passerini, Somaglia dan San Fiorano.

Kota-kota, yang masing-masing memiliki antara 1.000-15.000 penduduk tersebut terletak sekitar 60 kilometer tenggara Milan, ibukota Lombardia dan pusat bisnis Italia. Roberto membenarkan tindakan pencegahan yang diambil Italia sebelumnya, karena Italia tetap menjadi satu-satunya negara Eropa yang melarang penerbangan ke dan dari China, Hong Kong, Macau, dan Taiwan.

Kementerian kesehatan memerintahkan siapa pun yang melakukan kontak langsung dengan para korban untuk dikarantina selama 14 hari. Dia juga merekomendasikan orang lain di kawasan itu untuk tetap tinggal di rumah. Sedangkan pemerintah bekerja untuk mengidentifikasi bangunan militer, hotel atau struktur lain yang dapat berfungsi sebagai bangsal isolasi jika perlu.

“Di bagian lain dunia, dan juga di China, telah ditunjukkan bahwa sistem ini (isolasi diri) membantu secara substansial untuk menghalangi penyebaran. Tetapi kita tidak boleh membiarkan diri kita diliputi oleh kepanikan,” kata Attilio Fontana kepala daerah Lombardy.

Meskipun ada seruan untuk mengantisipasi dengan cara perlindungan diri, namun orang-orang Italia kesulitan menemukan masker pelindung. Apotek dan toko yang menyediakan masker di Milan melaporkan barangnya telah habis terjual minggu lalu. Menurut seorang apoteker di Codogno yang mengatakan bahwa Italia telah mengirim masker ke China selama berminggu-minggu dan kini mereka tidak memiliki banyak persediaan.

News Feed