by

Nasib PRT Migran Hong Kong di Tengah Ancaman Wabah Virus Korona

Banyak pekerja rumah tangga (PRT) Migran yang merasa cemas, karena selain mereka tidak bisa mendapatkan masker serta cairan pembersih tangan, beberapa lainya lagi mengalami pemecatan sepihak ketika majikan mereka meninggalkan Hong Kong untuk menghindari wabah virus korona, Selasa (04/2/2020).

Seperti diberitakan oleh SCMP, demi menutupi kekurangan persediaan alat pencegah penularan virus korona, Mission for Migrant Workers dan Bethune House meluncurkan kampanye yang menyerukan sumbangan masker, sanitiser tangan dan uang, untuk membantu 400.000 PRT Migran di Hong Kong, yang sebagian besar berasal dari Filipina dan Indonesia.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia turut menggalang donasi, mereka juga berharap perwakilan dari dua negara tersebut segera mendistribusikan bantuan ribuan masker kepada warganya yang menjadi  pekerja migran. 

“Pekerja sangat khawatir karena mereka tidak dapat menemukan masker wajah karena majikan tidak menyediakan, beberapa lainya mengatakan mereka tidak diberi akses rutin ke sanitiser dan cuci tangan antibakteri,” kata Eman Villaneuva, juru bicara Badan Koordinasi Migran Asia (AMCB).

Eman berpendapat, bahwa majikan seharusnya memberikan tingkat perlindungan yang sama kepada pekerjanya, seperti apa yang mereka lakukan kepada kerabat dan keluarganya.

“Jika Anda ingin melindungi keluarga Anda, Anda harus menyertakan pekerja rumah tangga Anda, dengan meninggalkan satu orang yang tidak terlindungi, Anda membahayakan seluruh keluarga Anda.” kata Eman seperti dikutip SCMP.

Antrean panjang telah menjadi pemandangan umum di banyak tempat, ketika penduduk Hong Kong berharap dapat membeli persediaan pelindung rela menunggu hingga beberapa jam di pengecer dan apotek, meski beberapa perusahaan menjual barang-barang tersebut dengan harga yang jauh lebih tinggi karena kelangkaan dan kenaikan permintaan.

“Masker dan pembersih tangan harus diberikan tidak hanya kepada PRTA, tetapi juga untuk semua orang yang membutuhkan, jika ditemukan penjual memberi terlalu banyak untuk majikan, maka pemerintah harus memantau harga secara efektif dan membantu distribusi secara merata”, jelas Cynthia Abdon-Tellez, kepala Mission for Migrant Workers dan co-founder Bethune House.

Cynthia juga mengatakan, saat ini sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan perempuan di dua tempat penampungan yang dikelola oleh Bethune House, yang menyediakan tempat tinggal, makanan, beberapa kebutuhan lainya, serta bimbingan kasus dan pelatihan untuk migran yang berkasus.

“Kami menerima satu liter sanitiser dan beberapa orang menyumbangkan sedikit uang. Tapi itu tidak cukup, karena ada sekitar 30 perempuan yang saat ini berada di salter yang sama dan kami juga menyediakan makanan sehari-hari untuk 15 wanita lainnya,” kata Adbon-Tellez.

Menurut Adbon, dalam beberapa hari terakhir ini  telah menerima beberapa pertanyaan dari orang-orang yang kontraknya diputus karena majikan mereka meninggalkan Hong Kong, dan majikan lain yang tinggal di sini menyuruh PRT Migran – nya kembali ke negara asal hingga krisis teratasi. Banyak pekerja khawatir karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan apakah mereka akan dapat memiliki pekerjaan lagi nantinya.

Pernyataan dari pemerintah Hong Kong juga memicu frustrasi di antara PRT Migran di Hong Kong. Pada hari Kamis lalu, pemerintah mengimbau PRT Migran untuk tidak meninggalkan rumah majikan pada saat hari libur yang hanya bisa mereka nikmati sekali dalam seminggu, dengan alasan sebagai upaya untuk menjaga kesehatan dan mengurangi risiko penularan virus.

“Banyak yang tidak diizinkan mengambil libur, beberapa dibayar, yang lain tidak … ini menambah stres. Jika kita tidak diizinkan keluar pada hari libur, seharusnya kita juga tidak boleh pergi ke pasar (untuk membeli bahan makanan sebagai bahan masakan untuk keluarga majikan), ” kata Eni Lestari, ketua Aliansi Migran Internasional.

Beberapa pekerja rumah tangga juga menghabiskan sebagian besar hari libur mereka setiap minggu untuk mencari masker wajah dan barang-barang pelindung lainnya. Seorang pekerja migran Indonesia, yang telah berada di Hong Kong selama empat tahun, mengaku menghabiskan tiga jam pada hari Minggu hanya untuk mengantri di Causeway Bay untuk mengumpulkan masker yang dipesan kepada teman-temannya dari negara asalnya.

“Majikan saya juga meminta saya untuk membantunya membeli enam kotak. Jadi saya melakukannya, karena biar sekalian ngantrinya,” kata wanita berusia 30 tahun itu yang dikutip SCMP.

News Feed