by

Pekerja Migran Di Korea Selatan Ditipu Dengan Bayaran Kupon Kertas Oleh Majikannya

Sejak tahun lalu puluhan pekerja migran sektor pertanian di Yeongcheon, Provinsi Gyeongsang Utara, telah dicurangi oleh majikan mereka dengan bayaran kupon yang tidak bisa ditukar dengan uang, seperti yang disampaikan kelompok lokal pembela hak-hak pekerja migran, Sabtu (14/12/2019).

Kelompok Solidaritas Pekerja Migran Daegu dan Gyeongsang Utara mengajukan petisi terhadap majikan, Selasa (10/12), mengklaim ada sekitar 200 pekerja migran menjadi korban penipuan dengan pemberian upah kupon palsu. Menurut para pekerja, majikan mereka membagikan kupon dan mengklaim bahwa slip kertas buatan sendiri itu dapat dengan mudah ditukar dengan uang tunai pada akhir bulan nanti.

Dilansir dari Korea Times, majikan mereka mengambil keuntungan dari kurangnya pengetahuan pekerja dengan hukum setempat. Para pekerja yang bekerja selama sembilan jam sehari di lapangan, dijanjikan bayaran sekitar 6.300 won per jam, jumlah itu kurang dari standar upah minimum Korea sebesar 8.350 won per jam.

Dengan membayar para pekerja migran dalam bentuk kupon, majikan mengatakan akan bisa ditukar dengan uang tunai ketika para pekerja pergi ke rumah sakit, membayar sewa atau tagihan pajak. Menurut kelompok aktivis itu, majikan mereka telah menahan sekitar 400 juta won ($ 335.000) dari para pekerja migran yang digilir bekerja di pertanian sekitar. Beberapa pekerja, upah yang ditahan hingga 30 juta won.

Majikan mengancam akan melaporkan pekerja yang menuntut bayaran yang layak kepada otoritas imigrasi, karena sebagian besar pekerja yang menjadi korban berada di Korea dengan visa undangan keluarga yang tidak dapat ijin untuk bekerja. Dalam sebuah konferensi pers di luar Administrasi Ketenagakerjaan dan Tenaga Kerja Regional Daegu, Selasa (10/12), kelompok-kelompok hak asasi manusia mengkritik kelambanan kementerian tenaga kerja mengusut kasus ini.

“Setiap orang memiliki hak, termasuk hak untuk tidak didiskriminasi berdasarkan kebangsaan, warna kulit atau etnis,” jelas Kim Jung-gon, kepala Pusat Buruh Migran Gyeongsang.

“Jika kementerian tenaga kerja melakukan pemantauan menyeluruh dan menghukum kesalahan majikan, peristiwa seperti itu akan bisa dicegah” tambahnya.

Tahun ini, ada sekitar 10.000 pekerja migran dengan visa yang berlaku untuk bekerja di sektor pertanian. Menurut data imigrasi, perkiraan jumlah pekerja asing yang bekerja secara ilegal di pertanian adalah dua kali lipat dari angka

News Feed