by

Rahasia di Balik Warna Berbeda-beda Stasiun MTR di Hong Kong

Mong Kok berwarna merah, Admiralty berwarna biru cerah, dan tidak ada seorang pun yang melewati stasiun MTR Choi Hung tanpa melihat pilar berwarna pelangi di platformnya. Mengapa masing-masing stasiun MTR di Hong Kong memiliki warna berbeda, dan apa artinya?

Saat melihat warna-warni stasiun, Anda mungkin berpikir dinding keramik berwarna cerah dari sistem kereta api transit massal Hong Kong hanya untuk mencerminkan bahwa kota Bauhinia ini penuh warna dan energi. Tetapi ternyata bukan itu saja sebabnya, ada rahasia di balik pemilihan warna-warna kontras masing-masing stasiun.

Pertama, warna yang berbeda dan dipilih ada hubungannya dengan keseimbangan. Berada jauh di bawah tanah, tidak ada jendela, semuanya akan terlihat serba gelap dan suram. Sedangkan warna dikaitkan dengan keindahan dan kecerahan, dan di kedalaman stasiun MTR, warna yang dipilih diharapkan bisa memberikan masing-masing stasiun bentuk sinar matahari dan keindahan sendiri.

Kedua, warna stasiun memiliki fungsional untuk membantu membedakan stasiun satu dengan lainnya, dan memberikan masing-masing stasiun identitas tersendiri.

Alasan utama warna-warna cerah diadopsi ketika jalur pertama MTR dibuka pada 1970-an adalah karena pembedaan warna dianggap berguna bagi para perancang untuk memberikan identitas pada stasiun, karena di bawah tanah yang tentunya tidak seperti ketika bepergian dengan bus atau mobil di atas tanah, mereka tidak dapat melihat landmark di sekitarnya.

Ketiga, warna stasiun dibedakan agar lebih mudah ditemukan dan diingat oleh orang-orang yang buta huruf. Menurut sejarahnya pada tahun 1970-an, tingkat buta huruf di Hong Kong masih tinggi karena baru pada tahun 1971 Hong Kong meluncurkan program pendidikan wajib gratis. Jadi sebagian besar warga Hong Kong masih belum bisa membaca huruf alphabet dan huruf Cina.

Keempat, warna berguna untuk menandai stasiun yang lebih penting. MTR sengaja menggunakan rentang merah tajam yang berbeda dan mencolok seperti di stasiun Tsuen Wan, Mong Kok atau Central. Hal itu agar para penumpang tahu bahwa mereka sedang berada di stasiun interchange atau stasiun terakhir.

Saat mengembangkan palet warna, MTR juga telah memastikan agar tidak menggunakan warna yang sama di stasiun berikutnya. Misalnya, biru digunakan di stasiun Mei Foo karena sangat kontras dengan stasiun merah Lai King dan Lai Chi Kok.

Kelima, agar stasiun mudah dikenali. Jika Anda bukan warga Hong Kong dan tidak dapat membaca bahasa Inggris atau Mandarin dengan baik, bagaimana cara bisa mengenali stasiun? Yup! Dengan menandai dan mengenali warna stasiun!

Sebagian dari warna stasiun juga dipilih agar sesuai nama Cina yang digunakan stasiun. Misalnya, warna pelangi di stasiun Choi Hung adalah contoh nyata dari terjemahan harfiah dari bahasa Kanton, karena “choi hung” berarti pelangi. Kuning digunakan di stasiun Wong Tai Sin karena kata “wong” berarti kuning. Stasiun Lai Chi Kok berwarna merah karena “lai chi” berarti buah leci. Stasiun Prince Edward berwarna ungu karena warnanya biasanya dikaitkan dengan royalti atau kebangsawanan dalam budaya barat.

Selain kelima hal di atas, dengan kreatif para arsitek MTR juga menggunakan berbagai metode penentuan warna untuk menerjemahkan nama stasiun. Misalnya Stasiun Diamond Hill sebagian besar berwarna hitam, tetapi mosaik yang dibuat dengan indah menggunakan beberapa batu bata putih. Tujuan dari desain tersebut adalah untuk mencoba menghasilkan efek berkilau yang sama seperti berlian atau diamond dari sudut yang berbeda.

Makna tempat dan lingkungan di sekitar stasiun juga dipertimbangkan dalam penggunaan warna. Seperti Stasiun Whampoa berwarna biru karena lebih dekat ke wilayah perairan. Stasiun Ho Man Tin berwarna hijau karena merupakan bagian dari perbukitan yang memiliki pepohonan.

Mengingat setiap stasiun memiliki pewarnaan yang berbeda, Anda mungkin bertanya-tanya mengapa Airport Express Line justru berwarna abu-abu. Ini semua berkaitan dengan Norman Foster, arsitek yang merancang bandara, dan gedung HSBC di Central yang tidak menyukai penggunaan warna. Arsitek ternama tersebut sering merujuk ke “Foster grey” yang merupakan warna favoritnya dan digunakan untuk sebagian besar proyek hasil rancangannya.

Jadi arsitek MTR memutuskan untuk memanfaatkan pewarnaan yang berbeda pada saat perluasan bandara dari Lantau ke Hong Kong. Itulah kenapa Stasiun Airport Express, Kowloon dan Hong Kong berwarna abu-abu yang sama, agar mereka yang sedang atau hendak bepergian merasa sudah dekat dengan bandara.

Pada perkembangannya, Airport Express Line menjadi lebih keren dalam keabu-abuannya karena pengenalan karya seni. Para arsitek mengintegrasikan seni di stasiun dengan cara menyatukan warna dan fungsionalitasnya.

Misalnya seperti seni roket seniman Gaylord Chan di ruang antara stasiun Hong Kong dan Central. Karya tersebut tentang pergerakan orang, dan orang-orang yang lewat dengan cepat, yang mencerminkan area transit tempat stasiun di mana seni itu berada.

Konon semua karya seni di stasiun MTR, semua dikuratori karena bukan hanya tentang memilih gambar yang bagus, tetapi juga memastikan agar karya seni yang dipasang bisa beresonansi dengan orang-orang yang lalu lalang.

Sementara untuk stasiun yang lebih baru, MTR mulai mengintegrasikan seni dan warna dengan cara yang jauh lebih canggih dan kontenporer.

Untuk stasiun di Ocean Park, misalnya, warna biru yang berbeda digunakan karena mewakili taman hiburan. Ada juga patung seni yang menyerupai gerakan sekawanan ikan. Ada dua simbolisme dalam hal ini: melambangkan laut, dan makhluk-makhluk di Ocean Park, tetapi juga fungsional, karena dengan mengikuti pergerakan ikan, orang akan dapat menemukan jalan keluar atau platform stasiun.

Nah bagaimana Sobat Migran Pos? Apakah selama ini Anda pernah terpikir kalau MTR ternyata lebih dari sekadar moda transportasi tapi juga ruang pameran karya seni fungsional yang memiliki warna-warni bermakna yang semuanya terintegrasi secara keren?

News Feed