by

Bayi Seorang PMI Tiga Hari Terkurung Bersama Jasad Sang Ayah

Bayi berinisial N (14 bulan) ditemukan menangis di samping jenazah ayahnya, Aan Junaidi alias Fauzi (40th), Warga Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (15/8/2019).

Diwartakan oleh Kompas.com, Aan selama ini tinggal berdua bersama anaknya. Sementara sang istri bekerja sebagai PMI (Pekerja Migran Indonesia) di Taiwan.

Ketika ditemukan, jenazah Aan terlihat sudah mulai membusuk. Ia diperkirakan telah meninggalkan tiga hari sebelumnya.

Pj Kepala Desa Kaliwining, Sugeng Hariadi mengatakan, hal itu berawal dari kecurigaan warga yang mencium bau menyengat dari rumah Aan.

“Warga baru mengetahui bahwa korban meninggal setelah tercium bau busuk yang cukup menyengat dari dalam rumah korban dan terdengar suara tangis balita,” kata Sugeng, Kamis (15/8/2019).

Warga akhirnya langsung mendatangi rumah korban dan terpaksa mendobrak pintu rumah karena masih dalam keadaan terkunci.

Ketika di dalam rumah, bau busuk semakin menyengat dan warga menemukan Fauzi sudah dalam kondisi meninggal dengan anaknya yang sedang menangis di sampingnya.

Menurut warga, Fauzi terakhir terlihat di depan rumahnya hari Sabtu (10/8/2019).

“Bahkan ada warga yang mengantar nasi kotak ke rumah korban ini. Nah, sejak saat itu korban sudah tidak terlihat lagi, dan ternyata ditemukan meninggal dunia Rabu sore kemarin,” kata Sugeng.

Kapolsek Rambipuji AKP Sutarjo menyatakan, korban meninggal karena sakit.

“Dari hasil pemeriksaan tim medis, korban ini memiliki riwayat penyakit. Tidak ada tanda- tanda kekerasan di tubuh korban,” tutur Sutarjo.

Sementara anak Fauzi, bayi N setelah mendapatkan pemeriksaan dan perawatan bidan setempat, akhirnya dibawa Setiyati, kakak kandung dari ibunya.

“Jadi, adik saya, ibu dari balita ini bernama Sulastri, dan dia memang saat ini jadi TKW di Taiwan,” ungkap Setiyati, saat ditemui di Kantor Desa Kaliwining, Kamis (15/08/19).

Menurut Setiyati, adiknya tersebut berangkat ke Taiwan sekitar enam bulan yang lalu. Tetapi baru bekerja sekitar tiga bulan.

“Jadi, kan masih di penampungan dulu, dan adik saya baru bekerja tiga bulan di Taiwan. Sebenarnya mau pulang, tetapi belum mendapat izin,” ujarnya.

Dilansir oleh Kompas.com, Sulastri mengabari Setiyati pukul 02.00 WIB dari Taiwan dan ia pun langsung berangkat ke Jember.

“Saya dikabari dini hari tadi jam 02.00 WIB. Saat itu, adik saya telepon dan dia mengabari kalau suaminya meninggal dunia, dan dia minta agar anaknya dibawa saya untuk dirawat,” ungkapnya.

Setiyati bersama keluarganya mengaku sempat kebingungan mencari alamat adiknya di Jember.

“Kami belum pernah sampai ke rumahnya, karena baru pindah ke perumahan. Tadi sempat kebingungan, dan alhamdulillah akhirnya ketemu. Ini setelah proses penyerahan dari berbagai pihak, langsung saya bawa ke Banyuwangi,” kata Setiyati.

News Feed