by

Majikan di Singapura Mendapat Vonis Terberat Sepanjang Sejarah Karena Menganiaya PMI

Zariah Mohd Ali (58th) divonis penjara 11 tahun, sementara suaminya, Mohamad Dahlan dijatuhi hukuman penjara 15 bulan. Hukuman kepada Zahira menjadi yang terberat yang pernah dijatuhkan terhadap majikan di Singapura dalam kasus penganiyaan terhadap PRT ( Pekerja Rumah Tangga).

Selain hukuman penjara, Zariah juga diwajibkan membayar kompensasi terhadap korban, sebesar 56.000 dollar Singapura atau sekitar 576 juta rupiah.

Diberitakan oleh The Straits Times, Kamis (1/8/2019), Zahira terbukti telah menyiksa Khanifah (39th), Pekerja Migran Indonesia ( PMI ) asal Indramayu dengan menggunakan perkakas seperti palu, tiang bambu, parang, dan alu batu.

“Ini adalah kasus penganiayaan terhadap PRT yang terburuk yang pernah terjadi dalam sejarah Singapura. Pesan lantang harus disampaikan melalui kasus ini bahwa Pengadilan Singapura tidak akan mentolerir perlakuan sewenang-wenang terhadap PRT,” kata Wakil Jaksa Penuntut Umum Tan Wen Hsien di persidangan.

Khanifah diketahui telah bekerja sejak November 2011 di keluarga terdakwa, namun penganiayaan baru terjadi dalam kurun waktu Juni hingga Desember 2012 silam.

Zariah terbukti paling banyak melakukan tindak kekerasan terhadap korban, mulai dari menghantam bagian belakang kepala dan mulut korban dengan palu, memukul telinga kiri dan dahi korban masing-masing dengan tiang bambu serta alu batu. Sementara itu, suami Zariah, Mohamad juga ikut menyiksa Khanifah dengan memukul kepalanya menggunakan wajan.

Zariah juga terbukti menikam bahu korban dengan gunting, melukai lengannya menggunakan parang dan mematahkan jari kelingking kiri Khanifah.

Tindak kekerasan tersebut menyebabkan Khanifah mengalami cacat fisik permanen. Ia mengalami kerusakan telinga kiri, bekas luka permanen di dahi, belakang kepala dan bahu, serta jari kelingking kiri yang tidak dapat lagi dipergunakan secara normal.

Korban tidak hanya mendapat kekerasan secara fisik namun juga secara verbal. Menurut pengadilan, Zahira tidak mengizinkan Khanifah untuk menggunakan telepon dan menghubungi keluarganya.

Korban juga dilarang berkomunikasi dengan tetangga serta diminta bersembunyi di dapur jika ada tamu berkunjung ke rumah majikan. Hal tersebut dituturkan korban yang mengalami trauma berat kepada hakim dan jaksa.

“Saya masih ketakutan ketika melihat mantan majikan saya itu di pengadilan. Saya khawatir dia akan menyerang saya lagi,” ujar Khanifah.

Khanifah juga mengungkapkan bahwa, ia merasa malu dengan kondisi fisiknya sekarang karena banyak yang merasa jijik ketiak bertemu dengannya.

Penganiyaan yang dialami Khanifah terungkap ketika ia berhasil pulang ke Indonesia pada Desember 2012.

Suami korban kaget melihat kondisi tubuh istrinya dan segera melapor ke agen TKI yang mengirim Khanifah ke luar negeri.

Zariah awalnya membantah telah menganiaya korban dengan membela diri bahwa dirinya mengalami stroke serta lumpuh, sehingga mustahil dapat melakukan kekejaman pada Khanifah

Namun, Wakil Jaksa Penuntut Umum Tan Wen Hsien tegas menyebut bahwa, pemeriksaan medis menyatakan Zariah sebenarnya sehat secara fisik maupun mental.

Ini bukan pertama kalinya Zariah dipenjara. Ia juga pernah dipenjara atas kasus yang sama pada tahun 2001. Hakim Luke Tan mengecam sikap Zariah yang sama sekali tidak menunjukkan penyesalan.

Menanggapi vonis hakim, baik Zariah maupun Mohamad menyatakan akan mengajukan banding.

News Feed