by

LIPMI Berbagi Kisah Menjadi PMI Kepada Pelajar dari Amerika

Puluhan pekerja migrant Indonesia (PMI), yang tergabung dalam Liga Pekerja Migran Indonesia (LIPMI), berbagi pengalaman mereka menjadi PMI kepada para pelajar dari Amerika di Tenda Putih, Victoria Park, Causeway Bay 7 Juli 2019.

Anggota LIPMI selain mengadakan yasinan untuk mendoakan ibu salah satu anggotanya yang meninggal karena sakit, juga memberikan training leadership kepada anggotanya. Training tersebut untuk mempersiapakan kepemimpian yang sehat dalam sebuah orgaisasi, dan memberikan gambaran perbedaan antara organisasi dan group tradisional.

Mereka juga diberikan contoh  bagaimana menyelesaikan sebuah konflik antara pengurus dan anggota. Menurut Sahlan koordinator LIPMI
“karena semakin maju organisasi tersebut, akan semakin banyak konflik yang bisa saja muncul diinternal ataupun eksternalnya, itu sebabnya harus di tangani dengan tepat, dan trening leadership memberikan pelajaran tentang itu”.

Kedatangan para pelajar Amerika dari University of California, San Diego itu dalam rangka pertukaran budaya, dan mereka memiliki ketertarikan khusus untuk mengetahui kisah yang dialami PMI secara langsung, yang kali ini dijembatani oleh NGO Open Door HK. LIPMI berkesempatan menyampaikan beberapa situasi dan kondisi kerja para PMI yang sering datang untuk melakukan konseling, dengan berbagai permasalahan yang dihadapi di rumah majikanya.

Selama ini masih banyak PMI yang mengalami biaya penempatan yang berlebihan, bekerja yang tidak sesuai tugas yang ada dikontrak kerja, tidak mengetahui harus berbuat apa atau melapor kemana jika mengalami masalah dan mendapat ketidakadilan ditempat kerja, serta masih banyak PMI yang tidak menendapatkan ijin memegang ponsel genggamnya.

“banyak PMI yang tidak boleh pakai handphonenya, padahal ini alat yang paling penting untuk pekerja yang bisa menjadi senjata, apabila mengalami pelecehan seksual atau dituduh mencuri barang milik majikan, kalau kita menyimpan handphone disaku celana kita bisa menggunakan untuk menyimpan bukti. Atau jika PMI tersebut atau orang di sekitarnya mengalami kecelakaan, bisa langsung segera menelfon untuk meminta bantuan” jelas Sahlan kepada para pelajar itu.

Para pelajar itu mengaku sangat kaget, dan tidak menyangkan persoalan yang dihadapi pekerja migrant itu sangat kompleks. Dimana setiap pekerja yang bekerja dirumah majikanya untuk menjaga anak atau orang tua, juga harus mengerjakan semua pekerjaan rumah dari pagi sampai malam serta tidak bisa keluar untuk sekedar bersantai kalau tidak hari libur, dan sebagian besar pekerja itu tidak memiliki kamar sendiri.

Michael salah satu pelajar itu bertanya, “apakah kalian tidak merindukan keluarga kalian?”

Anggota LIPMI menjawab, “setiap saat kami sangat merindukan keluarga, namu kami harus bertahan dan berjuang untuk masa depan yang lebih baik”.

News Feed