by

Dewan Konsumen: PRT Migran Tidak Dibenarkan Mengandalkan Wawancara Video

Dewan Konsumen Hong Kong menyatakan permintaan Pekerja Rumah Tangga (PRT) Migran di Hong Kong akhir-akhir ini sangat tinggi, tetapi keluhan dan pengaduan tentang PRT Migran juga semakin banyak, Rabu (15/5/2019).

Dari catatan Dewan Konsumen diketahui ada 70 keluhan dari Januari hingga April tahun ini, yang keluhannya serupa dengan 193 keluhan pada tahun lalu. Keluhan masyarakat tersebut beberapa dari warga yang hendak mempekerjakan PRT Migran, walau pada akhirnya kontrak kerjanya gagal, tetap tidak menerima pengembalian uang yang sudah dibayarkan ke agen.

Meskipun kegagalan kontrak biasanya disebabkan kinerja PRT Migran yang tidak sesuai dengan curriculum vitae atau keterangan pada biodata yang disodorkan agen.

Dilansir oncc.hk, menurut Dewan Konsumen ada juga agen atau penyalur jasa PRT Migran yang menggunakan terjemahan instan untuk membantu PRT Migran dalam wawancara.

Oleh karena itu Dewan Konsumen telah menghimbau semua agen untuk meningkatkan kualitas layanannya, meningkatkan komunikasi dengan konsumen dan melakukan upaya yang baik untuk memantau kinerja PRT Migran. Tan, seorang mantan majikan, mengaku telah mempekerjakan seorang PRT yang berbasis di Hong Kong yang telah berpengalaman dalam merawat bayi dan tahu cara memasak dan berbicara dalam bahasa Kanton.

Dalam kasus wawancara video, para PRT Migran asal Indonesia tersebut juga dapat berbicara bahasa Inggris dengan cara yang sederhana yang membuatnya mengambil PRT tersebut dengan biaya sebesar 10.000 dolar Hong Kong.

Namun, setelah tandatangan kontrak, PRT Migran asal Indonesia tersebut bahkan kata-kata sederhana seperti mencuci pakaian dan memasak saja tidak paham. Sehingga Tan hanya dapat mengeluarkan perintah kerja kepadanya melalui aplikasi bahasa Indonesia di ponsel. Tan mempertanyakan kredibilitas PRT terhadap PRT-nya yang kemudian mengungkapkan bahwa selama wawancara, ada tampilan di belakang kamera untuk terjemahan instan jawaban yang mesti dibacanya.

Ketika Tan pergi ke agen untuk mempertanyakan hal tersebut, agen mengaku tidak tahu soal itu dan bersikeras tidak ada pengembalian uang, dan hanya setuju untuk memberikan diskon 30% bagi Tan untuk mengganti PRT-nya.

Atas pengaduan Tan, Dewan Konsumen merekomendasikan agar Tan memasukkan kasusnya ke Pengadilan Klaim Kecil. Selain Tan, ada juga Li yang menggunakan PRT Migran asal Indonesia di Hong Kong pada bulan Juli tahun lalu. Pada awalnya PRT dijadwalkan untuk mulai bekerja pada bulan September, namun agen gagal untuk memberangkatkan PRT-nya dengan alasan bahwa PRT tersebut ternyata hamil. Agen hanya memberi kompensasi kepada Li untuk setengah dari biaya kontrak, sekitar HK$7000 serta menawarkan PRT lainnya yang kemudian juga gagal berangkat karena kehilangan kartu identitas Indonesia-nya.

Untuk mencari dan mendapatkan penggantinya memakan waktu satu bulan, dan Li kecewa ternyata PRT barunya yang berasal dari Indonesia tersebut belum punya pengalaman kerja ataupun pelatihan kerja dari pihak penyalur jasa tenaga kerja. Ternyata dari penyelidikan, Li mengetahui kalau pihak agen selama ini sengaja menunda keberangkatan PRT karena masalah dokumen, kurangnya pelatihan, dan kebutuhan untuk menunggu persetujuan konsulat, dan pemeriksaan PRT-nya.

Menurut Dewan Konsumen, dari kasus pengaduan yang ada menunjukkan bahwa meskipun agen mengiklankan pengembalian biaya 100% jika PRT Migran yang direktur tidak cocok, namun staf agen selalu bisa membuat sejumlah alasan untuk menolak pengembalian dana tersebut. Kontrak menyatakan bahwa apa yang disebut “pengembalian 100%” sebenarnya memiliki banyak persyaratan. Tetapi persyaratan tidak dijelaskan baik kepada majikan ataupun PRT pada periode penandatanganan kontrak kerja.

Comment

News Feed